Senin, 11 Januari 2016

Kisah Horror Paling menakutkan Zombie's DNA

Kisah Horror Paling menakutkan Zombie's DNA

Seorang pria membanting kap mobilnya, kendaraan seharga 200 juta itu tak akan berguna tanpa bahan bakar. Malam semakin larut, sementara di dalam mobil van... seorang gadis tengah sekarat.
"Wan... aku akan mati," rengek Yul dari dalam mobil.
"Kau tidak akan mati!" Suara Wawan meninggi. Ia panik, ia ketakutan... bayangan tentang apa yang akan terjadi pada Yul--adik perempuannya--dalam 5 jam ke depan begitu mengerikan.
"Saat matahari terbit, Wan. Apa bedanya mati sekarang dan nanti? Setidaknya... biarkan aku mati dalam wujud manusia." Yul terus-menerus mengigau. Suhu tubuh gadis turun drastis, dingin seperti mayat.

"Berhenti membuatku kesal, Yul!" bentak Wawan. Meski ia tahu itu percuma, adiknya sudah memasuki fase klinis. Ia akan terus mengigau dan merancau, suhu tubuhnya akan semakin menurun, juga kulit yang semakin pucat. Yul hanya memiliki waktu kurang dari 5 jam sampai benar-benar mati. Bukan mati dalam artian yang sebenarnya, karena ia akan 'hidup lagi' dalam wujud Zombie.
"Tembak kepalanya!"
Suara tenor yang sangat asing mengalihkan perhatian Wawan. Sosok kurus dengan setelan kemeja putih, dan sebuah shotguns tipe AK-47 tergantung di pundak.
Wawan bergeming, ia memicingkan matanya, berharap bisa melihat wajah si pemuda kurus dengan lebih jelas.
''I'm Will," ujar pemuda yang ternyata memiliki wajah yang sangat manis.
"Aku Wawan. Dan yang ingin kau tembak kepalanya itu, Adikku, Yul."
Wawan yang terkenal sangat tempramental itu menatap Will, sinis.
"I see... tadi aku hanya memberikan saran. Kau ini kaku sekali," ujar Will. Ia tampak sangat tenang, tersenyum manis pada Yul yang tak memiliki sisa tenaga lagi.
"Jadi, kau ingin ia tetap hidup?"
"Pertanyaan macam apa itu?! Tentu sa--"
"Meskipun ia akan berubah menjadi Zombie dengan 80% kemungkinan bisa membunuhmu jika kau tidak menembak kepalanya?"
Will menatap lurus mata Wawan, meski perbedaan tinggi dan bentuk badan di antara mereka cukup jauh, tetapi tak tampak rasa gentar dari sosok Will--yang tampilannya seperti remaja berusia 16 tahun--di hadapan Wawan.
"Aku tak mungkin membunuh adikku sendiri," gumam pria dengan wajah yang sangat kusut itu.
"Artinya kau ingin dia membunuhmu," timpal Will.
''Apa yang kau inginkan?" tanya Wawan.
"Kak... apa itu suara ibu? Apa dia sudah pulang dari pasar? Bu...." Yul kembali mengigau. Will mengintip keadaan gadis itu dari balik jendela mobil.
"Sudah berapa lama dia terkena virus?"
"Sekitar satu setengah jam."
"Mobilmu mogok?"
"Ya."
Tanpa meminta izin dari Wawan, Will masuk ke dalam mobil van. Tampak sosok gadis yang begitu lemah, pemuda kurus itu menatap sendu betis Yul yang dibalut kain seadanya.
"Hei, Oldman, bersumpahlah!"
"Aku tidak menger--"
"Bersumpahlah untuk adikmu. Jangan katakan pada siapapun apa yang kau lihat," titah Will.
"Apa maksudmu?" Wawan benar-benar merasa nyaris gila, ia sama sekali tidak mengerti maksud Will. Di saat yang sama, pria itu sangat takut kehilangan adiknya.
Will tampak menggulung lengan kemejanya, "kau punya peralatan medis?" Tanya Will.
"Ya, tentu."
Meski tak terlalu mengerti, namun Wawan enggan bertanya. Ia membuka pintu depan mobil, mengambil peralatan P3K sederhana yang ia bawa dari kota.
"Kau sudah mencoba mengobatinya?"
"Ya, aku menyiramkan alkohol di lukanya, kemudian menyuntikkan anti-biotik. Itu bisa memperlambat penyebarannya, kan?"
Will mengangguk, ia membuka kotak P3K itu. Menggambil satu alat suntik, memasangkan jarum baru, kemudian meraih kapas.
"Bersumpahlah kau tidak akan mengatakan kepada siapapun hal ini."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Memberikan adikmu sedikit waktu lagi," suara Will sangat pelan.
"Baiklah, aku bersumpah! Aku bersumpah dengan sepenuh jiwaku! Tapi, kumohon... selamatkan adikku."
Will melirik Wawan yang mengiba dengan sungguh-sungguh di luar sana. Pemuda itu menghela nafas, ia mengarahkan jarum suntik itu ke lengannya, tepat di pembuluh darah. Dengan satu tarikkan perlahan, tampak cairan merah pekat mulai mengisi alat suntik berukuran medium itu.
Setelah mengisi suntik itu dengan darahnya, Will meraih kapas dan plaster untuk menutup bekas suntikkan.
-
"Belum ditemukan vaksin ataupun penawarnya, kau tahu? Tapi... Aku tahu satu cara untuk memperlambat penyebaran virus zombie," ujar Will.
"Be--benarkah?" Wawan mengintip dari luar mobil, ia benar-benar bingung dengan sosok bernama Will itu.
''Kau percaya padaku? Kalau penelitianku tidak meleset, ini akan membuat adikmu bertahan selama tiga sampai empat minggu ke depan."
"Kumohon lakukanlah! Kami tidak punya harapan ataupun pilihan lagi...," pinta Wawan.
"Baiklah," sahut Will. Ia mengarahkan suntik itu ke pundak Yul, tepat di pembuluh darahnya.
"Shuut," saat itu juga darah Will berpindah ke tubuh Yul.
-
Di sebuah ruangan bawah tanah, tersusun rapih kursi dan meja kayu layaknya ruang tamu biasa. Will menyeduhkan tiga gelas teh hijau di atas meja. Wawan dan Yul diam termenung.
"Ini teh terbaik di San Fransisco," ujar Will.
"Ugh... Mister, bagaimana bisa an--"
"Kalian sukarelawan?" Will memotong ucapan Yul, seperti sudah menjadi kebiasaannya.
"Ehm, ya. Kami sebenarnya hanya ingin melakukan riset," sahut Yul.
"Kepada zombie? Konyol sekali...," cibir Will.
"Kau sendiri tinggal di sebuah desa yang dipenuhi zombie." Wawan membalas ejekkan Will.
"Yeah, terkadang kita diletakkan pada dua pilihan buruk. Dan harus memilih mana yang tidak terlalu buruk," gumam Will.
"Kalian tahu tentang APV-VZ?" tanya Will pada kedua tamunya.
"Asosiasi Penelitian Vaksin-Virus Zombie? Mereka semua hebat, mengabdikan hidupnya untuk mencari vaksin yang akan menghilangkan virus zombie," ujar Yul.
"Ya, nona manis... mereka memang seperti itu, setidaknya di mata masyarakat. Mereka akan mencari penawar untuk virus itu. Meski... harus mengorbankan banyak waktu, harta, dan... nyawa." Sinis dan penuh kebencian, itu yang tampak saat Will berbicara.
"Kau salah! APV-VZ tidak seperti itu. Mereka sangat baik...," elak Yul.
"Diam, Yul! Ingatlah dia yang menyelamatkan nyawamu," bentak Wawan. Kemudian Yul menunduk lesu.
"Jadi, bagaimana bisa kau me--"
"DNA, aku memiliki DNA istimewa yang kebal terhadap virus zombie. Dan APV-VZ membutuhkan orang-orang sepertiku. Memungut kami dari jalanan, kehausan, kelaparan, sendirian... tanpa harapan."
Wawan dan Yul menatap Will... antara terkejut dan tidak percaya, semua terlukis jelas di wajah mereka. Will menyeruput teh miliknya, akan ada cerita panjang yang perlu didengar kedua orang di hadapan pria itu.
"APV-VZ memberikan kami kehidupan, tempat tidur yang empuk, makanan, juga pakaian. Kami pikir itu semua gratis dan tulus, tapi... tidak ada yang gratis di dunia ini, kan? Harga dari kehidupan itu adalah... nyawa kami."
"Kau tahu, Oldman dan... Nona manis? Zombie disini mungkin telah kehilangan ingatan dan akal sehat mereka. Tapi, manusia di luar sana justru kehilangan hati mereka. APVA-VZ bagiku, jauh lebih kejam daripada Zombie."
"Ya Tuhan...," Yul menutup mulutnya. Mata gadis itu berkaca-kaca, seperti kebanyakan perempuan... ia memiliki hati yang sangat peka.
"Kau benar-benar menutup diri. Lalu, kenapa kau mau menolong kami, membocorkan rahasia sebesar itu?" Tanya Wawan.
"Jawabannya ada di wajah adikmu. Hal sial bagiku, ia sangat... mirip," Will menghentikan ucapannya.
"Dengan?"
"Gazela," Will menarik nafas dalam, "ia adalah gadis yang membatuku kabur dari pasukan khusus yang bekerja untuk APV-VZ. Ia korbankan nyawanya untukku," sambung Will.
"Oh... maaf," Yul menunduk.
"Kau belum aman, Yul. Kau akan terus membutuhkan DNA dalam darahku. Dan itu sangat mustahil untuk kulakukan," gumam Will.
"Akh... iya! Begini sudah lebih dari cukup. Aku akan memanfaatkan sisa hidupku sebagai manusia dengan baik. Berjanjilah, kak... kau harus merelakanku dengan baik," ujar Yul, ia tersenyum sangat manis. Dan senyum itu melukai Wawan lebih dari apapun.
"Ya," gumam Wawan.
-
Di perjalanan menuju pusat kota, Yul bersenandung kecil, tersenyum menatal ladang ilalang yang sangat luas. Sementara Wawan yang sedang mengemudi mobil van putih itu tampak pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Kita bersyukur ada orang sebaik Will, ia bahkan mengizinkan kita mengambil sedikit bensin dari mobilnya," ujar Yul.
"Ya, tentu."
Wawan menatap lurus jalanan, tentu saja ia sangat berterima kasih pada pemuda itu. Tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa jabatan General Maneger di PT.APV-VZ yang ia perjuangkan selama 10 tahun itu sangat sulit untuk dikorbankan dengan seorang pemuda baik hati yang baru ia kenal tadi malam.
Ia melirik adiknya, Yul. Gadis itu tidak tahu apa-apa, ia bahkan tidak tahu kalau kakaknya bekerja di APV-VZ.
-
Dua setengah minggu berlalu setelah kedatangan Wawan dan Yul ke rumah Will, mereka adalah tamu pertama sekaligus terakhir bagi pemuda kurus itu.
Bruak!
Suara pintu di dobrak menghentikan lamunan Will. Ia segera meraih shotguns, seperti biasanya... tipe AK-47 adalah pilihan pemuda itu. Sudah sangat lama sejak Zombie terakhir yang berhasil mencium keberadaannya. Will bersiap dengan senjata api laras panjang itu, menatap lurus pintu yang akan segera terbuka.
Bruak!
Tepat saat pintu itu terbuka, Will segera membidik. Namun bukan Zombie yang bertamu, lebih buruk dari itu... beberapa orang bersenjata handsguns dengan pakaian rapih muncul di hadapan Will.
"Hai... anak istimewa kesayanganku. Kau bertambah besar, ya?"
Suara yang tidak asing mengagetkan Will, kemudian muncul seorang pria tua dengan setelan jas mahal, sepatu pantofel mengkilap, dan rambut beruban yang ditata rapih. Pria berusia setengah abad itu tersenyum menatap Will.
"Kau tahu, Will... sudah bertahun-tahun kami kehabisan anak dengan DNA istimewa sepertimu. Penelitian kami benar-benar nyaris berakhir... lalu terpikir oleh kami untuk mencarimu. Kami beberapa kali mengirimkan orang ke tempat ini, sedikit berbahaya memang, tapi biaya yang kami keluarkan akhirnya terbayar saat kaki tangan terbaik kami berhasil menyentuh hati nuranimu," pria tua itu bermonolog di hadapan Will.
"Kaki tanganmu?" Mulut Will terkatup, matanya menyiratkan ketidak percayaan. Hingga kemudian muncul Wawan dari balik beberapa orang bersenjata itu.
"Maaf, Will... aku benar-benar--"
"Sialan, kau...," umpat Will. Pemuda itu membidik shotguns miliknya ke kepala Wawan.
"Oh... tenang, tenang... Will. Kau bisa menembak dia yang sama sekali tidak berharga, tapi... bagaimana jika aku tunjukkan ini?"
Pria tua itu menunjukkan sebuah ponsel ke hadapan Will, tampak sebuah video singkat menampilkan seorang gadis berambut brown bergelombang. Ia terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang menopang kehidupannya.
"Gazela... ia masih hidup?"
"Ohoho... terkadang kita harus menjaga umpan kita tetap segar untuk memikat ikan kerapu," ujar si pria tua.
"Kalian semua sialan! Kejam! Bajingan!" umpat Will tiada henti. Wajah pemuda itu memerah sampai ke telinganya. Ia menatap muak pria tua itu.
"Apa yang kalian inginkan?"

::TBC, Maybe?::
Another World, Ai.
As-sabt, 21 Rabi'ul Awal 1437 H.
Note:
Jika ada yang merasa ini memiliki sangkut paut dengan Maze Runners 2, yah... sedikit hal dari cerita ini terinspirasi oleh film itu.

Cerita Misteri Terseram Wanita pengecap darah

Cerita Misteri Terseram  Wanita pengecap darah


Oleh : Zie Qarisa Sasmi

Hutan Bukit Rel di Kabupaten Wajok Kecamatan Siantan Hilir, Pontianak Utara sudah terkenal akan keangkerannya. Konon di sana masih terdapat pohon-pohon raksasa yang beserta makhluk-makhluk gaib sejenis jin-jin jahat. Di sana bahkan sinar matahari susah untuk menembus rimbunan hutan. Tapi entah mengapa SMA N 05 mengadakan camping di sana.
"Aduh! Apa tidak bisa camping tempat lain, Pak Medi?" ucap Bu Rima sebagai panitia camping sekolah.
"Bu Rima takut ya? jangan terlalu percaya takhayul, Bu!"
"Bukan masalah takhayul, Pak! Tapi ini demi keselamatan anak-anak. Kita tidak boleh mengabaikan mereka, Pak!"
"Sudahlah, Bu! Jangan khawatir, kita akan menjaga anak-anak dengan baik dan tanggung jawab," ucap pak Medi dengan meyakinkan.
Bu Rima tidak kuasa melanjutkan pembicaraan, karena dia merasa percuma berdebat dengan pak Medi yang tidak percaya dengan hal-hal mistis.


Akhirnya hari yang ditentukan pun tiba, murid-murid SMA N 05 yang dipimpin beberapa guru mereka pun berangkat ke hutan Bukit Rel. Jumlah murid yang ikut lumayan banyak sekitar 80 orang, sedangkan guru pembimbing yang ikut sebanyak 5 orang. Terdiri dari Pak Medi ketua panitia, Pak Agung, Pak Zunaidi, Bu Rima dan Bu Karin. Murid-murid yang aktif di kepramukaan saja yang ikut camping.
"Bu Rima, masih jauhkah perjalanan kita?" tanya Siska salah satu murid.
"Setengah jam lagi kita akan sampai ke depan gerbang Hutan Rel, dan butuh 1 jam perjalanan menuju tempat camping," jelas bu Rima.
"Waduh! Jauh sekali, Bu!" sambung Beno.
"Belum sampai di gerbang hutan saja sudah serem," kata Siska sambil memandang kanan kiri jalan.
Rombongan camping itu menggunakan 2 buah bus sekolah, yang hanya bisa mengantar mereka sampai di gerbang hutan. Selanjutnya mereka harus berjalan kaki menyusuri hutan tersebut.
Setelah setengah jam, bus berhenti di gerbang hutan. Tertera jelas dengan papan nama Hutan Bukit Rel di atas gerbang kayu berbingkai besi berkarat. Tampak begitu angker terukir di papan berwarna hitam.
"Baiklah anak-anak! Kita sudah tiba di gerbang, perjalanan selanjutnya akan kita tempuh dengan berjalan kaki!" kara pak Medi dengan pengeras suara.
"Pak Agung dan Pak Zunaidi akan berjalan di belakang rombongan, Bu Karin di tengah rombongan, sedangkan saya dan Bu Rima berjalan di depan rombongan," ucap pak Medi kemudian.
Setelah mengatur barisan dengan rapi, murid-murid dan para guru pun mulai berjalan memasuki hutan tersebut.

Perjalanan menuju tempat camping sangatlah melelahkan. Karna medan yang ditempuh naik-turun, belum lagi kondisi jalan yang sedikit becek. Maklum saja hutan itu sangat rimbun dan lembab.
"Hutan ini terasa aneh," ujar Siska.
"Iya! Aku jadi merinding dari awal masuk gerbang," kata Bella yang berjalan di samping Siska.
Rombongan murid beserta guru itu pun menyusuri jalan. Banyak di antara mereka yang bergidik, bahkan murid-murid perempuan tampak tak berani memandang samping kiri maupun kanan jalan. Sedangkan ada yang berbincang-bincang sambil jalan mengusir rasa takut di hati mereka. Tiba-tiba,
"Braaakkkkk!"
"Aaakkkkhhhhhh!" Sebuah ranting pohon jatuh tepat di sisi jalan, dan secara spontan murid-murid yang kaget menjerit bersamaan.
"Tenang anak-anak! Cuma ranting pohon yang jatuh," jelas pak Medi menenagkan.
"Mari kita lanjutkan perjalanan sebelum gelap!"
"Hampir copot jantungku!" ucap bu Karin.
Kemudian perjalanan dilanjutkan, karena mereka berharap cepat tiba di tempat tujuan. Benar saja setelah satu jam berjalan. Rombongan pun tiba di tanah yang lapang di tengah hutan.
"Anak-anak! Kita sudah sampai tujuan, anak laki-laki cepat dirikan tenda sebagian, sebagian lagi cari kayu bakar untuk api unggun. Sedangkan anak-anak perempuan dan bu guru bisa memasak untuk makan kita."
Pak Medi memberi tugas dengan pengeras suara. Ada beberapa anak laki-laki dipimpin pak Agung menuju ke mata air. Mereka membawa beberapa jerigen dan ember untuk menampung air bersih.
"Anak-anak! Bantu ibu mencuci beras!" pesan bu Karin pada anak laki-laki yang mengambil air bersih.
Hari sudah mulai gelap, meski baru pukul 17:00 WIB. Tenda-tenda sudah berdiri, api unggun juga sudah siap dihidupkan. Sedangkan makan malam yang dipersiapkan oleh guru wanita beserta murid-murid perempuan juga hampir siap.
"Bu Karin! Saya masak nasi untuk makan malam kita dari tadi, sampai sekarang kok belum tanak-tanak, Bu?" ujar bu Rima heran.
"Maksud Bu Rima?"
"Iya, dari tadi saya coba nasi itu mentah, Bu!"
"Kok aneh! Coba Bu Rima beritahu pada Pak Medi!" kata bu Karin tak yakin.
Bu Rima pun meminta seseorang muridnya untuk memberitahu masalah mereka.
Pak Zunaidi dan Pak Medi datang dengan sedikit heran.
"Ada apa, Bu Rima?" tanya pak Zunaidi.
"Ini, Pak! Dari jam 16:30 WIB sampai sekarang nasi yang saya tanak, tidak masak-masak. Masih mentah, Pak!"
Pak Medi melirik jam tangannya, waktu menuju pukul 17:50 WIB. Aneh juga selama itu nasi masih mentah.
"Kurang air mungkin, Bu!" kata pak Medi.
"Tidak mungkin, Pak! Saya sudah biasa masak meski jumlah banyak!" jawab bu Rima.
Secara tidak sengaja pembicaraan para guru didengar oleh Nuri, salah satu siswa. Dan dia pun memberanikan diri untuk menyela pembicaraan.
"Maaf, Pak! Bu! Boleh saya yang masak nasi baru?" tanyanya.
"Kamu bisa, Nur?" tanya bu Karin kurang yakin.
"Insya Allah, Bu!"
"Biarkan Nuri mencoba, mungkin dia berpengalaman," ujar pak Zunaidi.
Tanpa buang waktu Nuri pun mengajak Siska dan Bella membantunya. Dari mencuci beras sampai memasak nasi hingga menanak Nuri berkomat kamit, Siska dan Bella tersenyum karna tingkah Nuri dan rada bingung juga karena belum satu jam nasi yang mereka masak sudah tanak. Nuri tidak lupa memberi sebuah paku pada air tanak nasi dalam dandang yang digunakan. Hal ini jadi pembicaraan murid-murid waktu makan malam tiba.
"Nur! Boleh ibu bertanya?" ucap bu Karin pada saat mereka berkemas-kemas usai makan malam.
"Silahkan, Bu!"
"Kenapa kamu memasukan sebuah paku di dalam dandang nasi?"
"Oh, itu karna nasi yang dimasak tidak diganggu makhluk halus, Bu!"
"Dari mana kamu tahu masalah ini?"
"Dari nenek saya, Bu! Beliau punya keistimewaan dalam hal-hal gaib," jelas Nuri.
"Oh!" Bu Karin mengangguk-ngangguk antara percaya dan tidak. Namun itulah kenyataan yang mereka alami.

Malam pun tiba, api unggun menyala. Seluruh murid dan guru berkumpul. Mereka bernyanyi dan melakukan permainan. Suasana cukup meriah dan memecah kesunyian hutan. Namun tanpa mereka sadari ada sepasang mata merah mengawasi dari balik semak-semak.

Setelah bernyanyi dan bersuka ria, malam pun kian larut. Semua anggota camping mulai lelah dan masuk ke tenda-tenda untuk istirahat. Tinggal beberapa siswa yang mendapat giliran jaga bersama pak Agung.
"Rudi dan Iwan, ikut bapak keliling tenda sebentar!" kata pak Agung pada dua siswa.
"Baik, Pak!" jawab keduanya serempak.
Ketiganya pun berlalu pergi. Sekonyong-konyong,
"Toolooonnnggg!" Teriak sebuah suara.
Para siswa yang berjaga langsung menuju arah suara, rupanya dari tenda siswa putri.
"Tolong! Tolong!" Teriak Bella ketakutan.
"Ada apa, Bel?" tanya pak Agung dari depan tenda.
"Tolong, Pak! Je .. Jeni hilang!" ucap Bella terbata.
"Jeni! Kemana dia?"
"Tadi Jeni tidur di samping saya, Pak! Ta ... tapi sekarang Jeni hilang!" ucap Bella ketakutan.
Bu Rima dan bu Karin datang menghampiri tenda Bella.
"Ayo kita cari! Mungkin Jeni pergi buang air kecil," kata pak Agung menenagkan.
Bergegas pak Agung mengerahkan beberapa siswa dan juga pak Medi, mencari Jeni. Sebagian membawa obor, sebagian ada yang membawa senter. Mereka berteriak memanggil nama Jeni.
"Jen! Jeni!" Panggil mereka bergantian. Tapi tetap tidak menemukan keberadaan Jeni. Sebagian siswa siswi yang di tenda, cemas menunggu kabar keberadaan Jeni. Hampir semua tidak bisa tidur hingga rombongan yang mencari Jeni pulang.
"Bagaimana, Pak Medi? Jeni sudah ditemukan?" tanya bu Rima cemas.
"Belum, Bu! Mungkin kita lanjutkan besok saja, karna anak-anak kelelahan," jelas pak Medi.
Semuanya tegang dan diam, masing-masing dengan pikiran sendiri.
"Anak-anak, sebaiknya kalian istirahat! Biar bapak dan guru lain yang berjaga-jaga!" kata pak Medi.
Sebagian siswa kembali ke tenda, tapi mereka tidak bisa tidur nyenyak. Waktu masih menunjukan pukul 03:15 WIB. Para guru bergantian keliling untuk ronda bersama sebagian siswa.

Pukul 06:20 WIB pak Medi yang sudah bangun dari tidurnya selama satu jam, karena bergantian ronda. Bergegas mengumpulkan beberapa siswa dan guru pria lain, untuk melanjutkan pencarian.
"Pak Agung, Pak Zunaidi! Kita bikin tiga kelompok, masing-masing kita membawa 6 sampai 7 siswa untuk mencari keberadaan Jeni."
"Baik Pak Medi! Memang itu lebih bagus, untuk memperluas pencarian," ucap pak Agung.
Setelah bersiap-siap, para guru pria itu pun memimpin pencarian. Mereka berpencar ke wilayah berbeda, sambil membawa bekal dan alat sekedar berupa tongkat, tali, dan juga berupa senjata seperti parang dan sabit. Karena mereka harus masuk ke hutan yang penuh belukar rimbun.
Rombongan pak Zunaidi ke arah utara, pak Medi memimpin ke arah selatan, sedangkan pak Agung menuju arah barat. Setelah hampir setengah jam berjalan, rombongan pak Agung berhenti di suatu tempat dalam hutan.
"Pak! Coba bapak lihat! Apa ini?" ucap salah satu siswa yang menemukan sesuatu di semak-semak.
"Apa yang kamu temukan?" tanya pak Agung.
"Ini seperti cabikan kain, Pak! Ada bercak darah di sini!" kata siswa itu kembali.
Pak Agung meraih cabikan kain itu, sambil mengernyitkan kening pak Agung berucap "kajn ini masih baru, dan darah yang membekas juga masih baru."
Para siswa yang terdiri dari 6 orang mengerumuni pak Agung. Dengan perasaan tegang mereka menunggu perintah guru itu.

Lama pak Agung diam dan mengamati cabikan kain di tangannya. Hingga salah satu siswa menyentak lamunan guru itu.
"Pak! Apa kita akan teruskan pencarian?"
"Sebaiknya kita pulang ke perkemahan, dan memberi tahu guru yang lain tentang ini," jawab pak Agung.
Entah mengapa firasatnya begitu tidak enak. Kemudian rombongan pak Agung pun kembali ke tempat camping. Bu Rima yang melihat kedatangan pak Agung beserta rombongan, cepat-cepat menghampiri.
"Bagaimana Pak Agung? sudah ketemu Jeni?"
"Belum, Bu! Kami malah menemukan cabikan kain ini, Ibu kenal dengan motif kain ini?" tanya pak Agung.
Bu Rima mengamati cabikan kain di tangan pak Agung. Rasa-rasanya dia pernah melihat tapi entah di mana. Sementara rombongan pak Zunaidi juga sudah kembali ke tempat camping, dengan tangan kosong pula. Dari jauh seorang siswa berlari menghampiri. Sesampainya di tempat, siswa itu berbicara dengan terengah-engah.
"Pak! Ikut saya ke dalam hutan! Pak Medi menunggu di sana!"
Tanpa banyak bicara, kedua guru itu pun mengikuti siswa tersebut. Sambil berlari kecil mereka menuju ke tempat pak Medi dan rombongan. Dari jauh mereka memandang ke arah sebuah pohon besar di dalam hutan itu. Tampak sesosok mayat bergelantungan di atas.
"Pak Medi! Itu Jeni!" Ucap pak Agung tak percaya.
"Iya!" jawab pak Medi singkat dan lirih.
"Astaga! Apa yang sudah terjadi pada Jeni?" ucap pak Agung terpukul dengan temuan itu.
"Sebaiknya kita turunkan dulu mayat Jeni, agar tahu apa dan bagaimana keadaannya," kata pak Zunaidi pula.
Dengan sigap pak Zunaidi memanjat pohon yang cukup besar dan tinggi itu. Sedangkan rombongan yang menunggu di bawah begitu tegang dengan situasi yang ada. Pak Medi tidak tahu harus berkata apa-apa, karena pertanggung jawaban terhadap siswa ada di tangannya. Setelah jasad Jeni diturunkan. Mereka melihat ada luka gigitan yang cukup dalam di bagian leher Jeni. Seolah tercabik-cabik binatang buas. Tapi bagaimana bisa Jeni bergelantungan dengan akar pohon di atas sana, itu yang tidak bisa dipahami. Kemudian mereka pulang ke tempat camping.
Tangisan dan jeritan pun pecah ketika semua tahu Jeni telah meninggal, apa lagi bu Rima dan bu Karin. Seluruh peserta camping ricuh karena kejadian itu.
"Pak Medi! Apa yang harus kita utarakan kepada orang tua Jeni atas kejadian ini?" tanya bu Rima di sela tangisannya.
"Kita harus lapor polisi atas kejadian ini, Bu!" ucap pak Medi.
"Sebaiknya kita berkemas-kemas dan pulang!"
"Hari sudah mulai gelap, Bu! Kita tidak bisa pulang sekarang, tapi besok pagi kita baru bisa kembali ke kota," jelas pak Agung pada semua yang berada di sana.
Mau tidak mau memang mereka harus menginap semalam lagi. Karena hari sudah mulai gelap dan mereka tidak bisa ambil resiko untuk keluar hutan saat itu juga. Belum lagi kendaraan untuk pulang juga tidak ada, karna perjanjian dengan bus yang mengantar datang pada hari ke 5 dari jadwal yang ditentukan. Pak Zunaidi pun mengambil sebuah terpal untuk membungkus jasad Jeni. Sedangkan pak Medi diam terpaku merasa sangat terpukul atas kejadian itu. Malam sudah datang, api unggun pun dinyalakan. Bahkan setiap sudut tenda mereka menyalakan api unggun, untuk berjaga-jaga dari serangan binatang buas. Siswa dan siswi berserta guru berkumpul di tengah-tengah tenda. Suasana berkabung sangat terasa malam itu, sebab kejadian sesungguhnya masih jadi teka-teki. Beberapa siswa berbisik-bisik membicarakan hal tersebut. Namun tiba-tiba angin berhembus kencang. Bersamaan itu, berkelebat sesosok tubuh yang melayang cepat dan menyambar salah satu siswa.
"Tolong! Tolong!"
"Hei! Lepaskan anak itu!" Bentak pak Medi berdiri dan mengejar tubuh yang melayang.
"Aaakhh!" Suara jerit tersengak dari atas pohon tempat tubuh siswa yang disambar kemudian jatuh ke tanah terlempar dari atas.
"Aaaaahhhh!" Jerit semua panik.
"Hihihihihi ...!" Sosok di atas pohon terkekeh puas. Tubuh itu pun melayang dan tertawa dengan lengkingan menakutkan. Rambut panjang menjutai tak beraturan, dengan wajah samar tapi mengerikan. Ditambah kuku dan taring panjang, entah makhluk apa sosok itu.
"Hihihihihihi ...!" Tawa menakutkan itu terbang berputar-putar di atas mereka yang berlari ketakutan. Ada yang masuk ke tenda, ada pula yang berpelukan sambil menangis gemetar. Sebagian siswa laki-laki dan guru pun memegang senjata tajam dan tongkat.mereka memberanikan diri untuk melawan seandainya di serang. Pak Zunaidi melempar tubuh yang melayang-layang itu dengan api obor. Diikuti oleh siswa yang lain. Tapi lemparan itu sia-sia, makhluk itu semakin terkekeh melecehkan tindakan pak Zunaidi.

Bersambung  5

Cerita Misteri Populer Misteri Buku Berdarah

Cerita Misteri Populer Misteri Buku Berdarah
Oleh : Redd Joan Member Komunitas Bisa Menulis (KBM)

"Tidak ada misteri buku berdarah di perpustakaan ini, aku tegaskan sekali lagi. Jangan membuat cerita yang tidak benar dan justru mengurangi niat baca para pengunjung! Kalau ada di antara kalian membuat hal-hal bodoh tentang hantu di sini lebih baik jangan datang kemari, paham!?"
Arman bicara dengan tegas kepada beberapa mahasiswa yang di catatnya telah menyebarkan kejadian horror di perpustakaan.
Sore hampir gelap Arman berjalan cepat menuju rumah Ratih, hujan gerimis tidak di hiraukan.
"Kamu minggu depan harus pindah ke luar kota ini Ratih, aku akan siapkan rumah kontrakan untuk sementara waktu. Tinggalah di sana dan bersikaplah biasa... Ok?"
Lagi-lagi suara tangisan itu muncul, jelas terdengar dari belakang rak buku paling ujung.
Di sana terdapat satu meja dan kursi juga beberapa buku besar catatan perpustakaan.
Mei merinding beku tubuhnya tidak berani bergerak.
"Sandi kau dengar suara tangisan itu?" Bibirnya gemetaran.
"Aku tidak mendengar apa-apa Mei, kamu jangan mulai lagi atau Pak Arman akan menghardik kita. Aku butuh banyak referensi buku dari sini..."
Sandi sibuk membolak-balik buku tebal di depannya dan mulai mencatat.
"Sandi, aku pulang duluan aja. Perasaanku enggak enak..." Mei mengemas buku-buku, berjalan menuju rak buku nomer tiga untuk meletakkan kembali.
Tiba-tiba dia mendengar ada suara benda terjatuh, mungkin beberapa buku.
Dia berbalik arah, melihat pada rak paling ujung itu.
Mei mengatur napas dan berusaha mengalihkan pikiran yang bukan-bukan tentang suara tangisan atau apapun itu.
Beranikan diri berjalan ke arah sana perlahan-lahan.
Begitu terkejutnya Mei menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan.
Darah berceceran di lantai ruang sempit itu dan bau anyir menyengat hidungnya.
Mei menutup mulut sambil matanya terbelalak tidak bisa menjerit melihat pemandangan yang begitu mengerikan.
Buku didekapannya jatuh di lantai, Mei rasa mual dan ngeri.
Hampir terjatuh lemas, di gapainya kayu rak buku lalu berbalik badan bergegas meninggalkan tempat itu.
Di ambilnya tas dari kursi tanpa berkata apa-apa kepada Sandi, Mei langsung berjalan keluar.
Tidak di rasa oleh Mei sepasang mata mengikutinya sampai dia menghilang dari balik pintu perpustakaan.

Mei mengambil segelas air kemudian menarik kursi dan duduk termenung. Kejadian ganjil dan mengerikan itu terus menerus terbayang di pelupuk matanya.
Sambil berkali-kali dia mengernyitkan dahi coba melupakan tapi semakin jelas saja kejadian itu dalam pikirannya.
Dia menelungkup di meja kedua tangannya memegangi kepala. “hufftt… misteri apa ini?!”
Tiba-tiba dia terkejut seperti punggungnya di tepuk seseorang, reflek dia menoleh kebelakang dan tidak sengaja tangannya menyenggol gelas dan pryang! Gelas jatuh pecah di lantai berhamburan.
Dia perhatikan sekeliling tidak ada orang lain di dapur.
“… mungkin aku tertidur tadi”
Mei mengeluh lalu bangkit ambil sapu membersihkan serpihan gelas.
Di liriknya jam tangan, menunjukkan pukul satu lebih dini hari.
Rumah lengang, orang tuanya pergi keluar kota mengunjungi nenek yang sakit.
Bik Yun juga ikut karena di sana butuh seorang yang bisa merawat nenek. Dendi pamit tidur di rumah kawan selesaikan project sekolah.
Mei melangkah masuk kamar, duduk depan meja belajar buka laptop dan mulai mengetik.
“Aku yakin melihat darah itu berceceran di lantai ruang belakang perpustakaan, tubuh seorang perempuan telungkup dengan kepala berdarah tangan terikat di belakang.
Juga suara tangisan yang selalu menggangguku setiap kali aku mulai membaca buku di perpustakaan itu. Tapi anehnya tidak ada yang mendengarkan atau setidaknya ada di antara mereka ada yang melihat tubuh tergeletak mungkin sudah berapa lama di situ, entahlah…
Selain statement pak Arman yang mengancam beberapa mahasiswa yang sempat menghebohkan isu horror aku tidak yakin hal ini adalah sekedar isu tidak beralasan."
Click save lalu off. Mei menutup laptop dan beranjak ke tempat tidur mencoba untuk lelap.
Di sebuah kamar kontrakan, Ratih demam dan tubuhnya terasa lemas. Hari ini mau ke dokter tapi hujan tidak berhenti.
Dia menggapai HP menekan beberapa nomer.
“…besok kamu bisa datang enggak? Aku tidak kuat lagi. Kalau terus begini aku bisa mati sekarat, tidak tahu apa penyakitku… jangan beralasan terus!” di bantingnya handphone ke atas meja, dia berbaring lagi dengan perasaan berkecamuk.
Matanya ingin terpejam tapi sulit, semakin dia ingin melakukannya semakin dia tidak bisa.
Di tambah lagi rasa sakit yang cukup membuatnya tidak tenang, keringat dingin bercucuran mual dan panas tinggi.
“Selamat ya bu, hasilnya positif…”
Dokter menunjukkan test pack ke arahnya.
Reaksi pertama Ratih adalah pucat dan gemetaran, tapi bibirnya menipu dengan tersenyum.
Lagi berpura-pura mendengarkan nasehat dokter untuk makan beberapa vitamin, istrahat cukup lalu menyerahkan resep obat dan Ratih mengangguk “Terimakasih…" katanya, sambil bangkit dari tempat duduk dan keluar dari ruang periksa kemudian bergegas pulang.
Perjalanan macet alasan keterlambatan disampaikan Arman kepada Ratih, ini klise tapi benar-benar bikin stress.
Sesampai Arman di kontrakan, Ratih sudah berangkat sendiri ke klinik tidak menunggu kedatanganya.
Dia langsung masuk ke dalam dan menunggu Ratih sambil istirahat.
Setibanya Ratih di rumah dia sempat terkejut melihat Arman sudah di dalam. Dia tidak melihat mobil Arman parkir di halaman depan.
"Arman...” panggil Ratih lalu menghambur ke pelukan Arman yang menyambut dengan lebih hangat, dia mengelus lembut punggung Ratih lalu mencium keningnya.
Gerimis mulai turun di luar sana, kehangatan dan gelora rindu mengikat mereka berdua.
Saling memagut dan melepaskan rasa bergumul hingga demam Ratih terlupa menguap bersama deru nafas silih berganti menjadi lelah yang menidurkannya dalam lelap kemudian.
Arman bangkit menyulut rokok, mengepulkan berkali-kali sambil matanya tidak pergi menelanjangi tubuh Ratih yang tergolek di pembaringan.

Ratih berusaha menahan tubuh, kedua tangannya mencengkeram dari tarikan kuat yang tiba-tiba di rasakan ketika dia tengah berbaring.
Dia tidak melihat apapun, yang di rasakan hanyalah kedua kakinya naik seperti ada yang menarik dengan sangat kuat.
Ratih menjerit ketakutan, tidak mampu menahan dan akhirnya dia lepas kendali.
Tubuhya berputar beberapakali di udara dan dihempaskan ke lantai.
“Aaaarrrhhh…” teriakan Ratih tertahan menahan sakit sekujur tubuhnya dan sangat ketakutan.
Dia menyeret tubuhnya ke samping tempat tidur, berusaha meraih hp dengan gemetar tapi belum sempat dia melakukan panggilan entah darimana datangnya hp seperti di rebut dan di buang ke lantai hingga pecah.
Ratih semakin histeris tidak di sadari darah mengalir dari selangkangannya dia merangkak meraih handle pintu kamar tapi terkunci.
“Bukaaaa…tolonglah buka pintunyaa…” teriaknya entah kepada siapa sambil di pukul-pukul pintu tapi tidak ada seorangpun mendengar.
Akhirnya Ratih terjatuh lemas tidak sadarkan diri.
Pengunjung perpustakaan tidak hanya terdiri dari mahasiswa unversitas setempat akan tetapi banyak juga datang dari universitas lain.
Bangunan perpustakaan di desain dengan gaya dinamis dinding ruang di cat paduan warna hijau daun dan kuning, juga beberapa lukisan yang di padu padan dengan tokoh terkenal dan ilmuwan.
Di dukung dengan koleksi buku-buku dari semua jenis keilmuan dan pengetahuan umum lain memudahkan pengunjung untuk tidak perlu susah payah mencari kelengkapan yang diperlukan dengan pergi ke perpustakaan lain.
Arman sudah lama bekerja sebagai penjaga sekaligus ketua koordinator perpustakaan.
Selain dia seorang penulis novel dan sebagai pengajar di sebuah lembaga kursus Bahasa Asing.
Sudah berkeluarga dan punya dua anak.
Tetapi dia punya hubungan dengan Ratih, seorang mahasiswa yang bekerja sebagai salah satu staff perpustakaan.
Awalnya hubungan mereka sekedar teman berbagi setelah pada banyak hal mereka sering melakukan bersama akhirnya Arman dan Ratih jatuh lebih dalam lagi pada hubungan yang terlarang dan lupa diri.
Menyadari kesalahan yang sudah terlambat, Arman merasa khawatir apabila hubungan tersebut di ketahui orang lain terutama istri dan anaknya yang tidak bersalah.
Akan tetapi Ratih begitu baik dan bisa menerima keadaan mereka, meskipun ada beberapakali dia menginginkan status yang sah dan jelas, tapi apa boleh buat Arman tidak berani melakukan itu.
Suatu sore Ratih sedang berada di ruang belakang perpustakaan untuk memeriksa pembukuan dan merapikan beberapa buku dalam rak, Arman datang memeluknya dari belakang. Ciuman demi ciuman semakin melenakan mereka berdua.
Via tersentak menyaksikan dua orang yang jelas dikenalnya itu setengah telanjang.
Di saat yang hampir bersamaan Arman dan Ratih pun terkejut dan tidak menunggu lama mereka melepaskan pelukan dan saling pandang.
Selanjutnya Via segera mundur dan ingin pergi menghindari sesuatu yang lebih tidak enak lagi.
Akan tetapi Arman dengan cepat menarik tubuh Via dipaksa masuk mendorongnya terjerambab di lantai.
Via melawan akan tetapi Arman jauh lebih kuat.
Arman menghantamkan kepala Via ke lantai berkali-kali, sampai pada detik terakhir Via tidak bergerak lagi.
"Kamu jangan hanya berdiri saja Ratih, tutup mukanya dengan buku tebal itu" teriak Arman.
"Ambil tali dalam laci sana aku mau ikat tangannya"
Ratih gemetar ketakutan tapi tidak berani menolak, dia membantu Arman mengikat ke dua tangan Via ke belakang.
Yang ada dalam pikiran Arman hanyalah menyelamatkan nama baik mereka berdua.
Jangan sampai apa yang telah mereka lakukan di ketahui orang.
Hal ini bisa mengancam pekerjaan juga kehidupan rumah tangganya, dia sudah gelap mata.
Darah berceceran di lantai tubuh Via tidak bergerak lagi, Ratih menggigil pucat pasi ketakutan.
Arman terdiam sambil berpikir bagaimana menghilangkan jejak pembunuhan mereka.

Sandi kembali menekuni buku di depannya berusaha tidak perduli dengan sosok seorang gadis yang terlihat hilir mudik di dalam ruangan sudut perpustakaan.
Semakin menunduk semakin besar niatnya untuk lebih memperhatikan. Akhirnya dia mengangkat sedikit wajahnya dan melihat ke arah gadis itu menunduk entah apa yang di lihat di lantai sana.
Wajahnya tertutup rambut jatuh sebahu, tidak lama kemudian dia menoleh kearah Sandi dengan pandangan seperti ketakutan.
Tiba-tiba Sandi dikejutkan teguran Mei, "Heiiii... lihat apa serius banget kamu" sambil dia menjatuhkan buku ke atas meja.
"Owh, aku..." katanya sambil dia menoleh ke arah gadis itu, akan tetapi sudah tidak ada di sana bahkan dia melihat sekeliling ruang perpustakaan Sandi tidak menemukan sosok itu lagi.
"Aku tahu kau juga melihatnya Sandi" kata Mei padanya.
"Shit...! Aku tidak suka ini, huuftt" jawab Sandi jengah tapi dalam hati diliputi berbagai tanda tanya.
"Ayolah Sandi kita selesaikan semua ini, tapi please janji hanya kamu dan aku" bujuk Mei sambil berbisik.
Akhirnya mereka sepakat untuk mencari jawaban misteri gadis yang sering muncul dan penuh misteri.
"Aku ikut..." tiba-tiba Dedi duduk di sebelah Sandi.
"Aku juga pernah melihatnya, dia sering datang kesini tapi aku yakin dia bukan mahasiswi universitas kita San" jelas Dedi
"Hari itu aku datang untuk mengambil headset yang tertinggal, aku melihat dia sedang membaca dan membuat catatan ketika aku mendekatinya untuk sekedar menyapa dan berkenalan, namanya Via.
Tapi setelah hari itu aku tidak pernah melihatnya lagi, kecuali pada saat perpustakaan hampir tutup di suatu sore aku bergegas keluar dan melewati ruang paling sudut di sana itu.
Sumpah! aku yakin postur tubuhnya sama persis tapi aneh, dia hanya berdiri terpaku menatap barisan buku membelakangiku, tentu saja aku tidak berani menegurnya karena entah mengapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri...”
Setelah mereka bersepakat untuk meyiasati keanehan yang sama-sama di alami, masing-masing kembali diam. Karena Arman berjalan ke arah mereka, "Kalian kalau mau diskusi silakan pergi ke kantin..." tegurnya.
"Maaf pak…" jawab Sandi.
Setelah Arman pergi, Mei mengajak mereka untuk segera keluar dan membicarakan rencana selanjutnya di cafe seberang perpustakaan.
Sudah dua hari Ratih tidak masuk kerja, dia hanya mengirim pesan kepada Arman bahwa dia tidak enak badan. Malas bicara juga menerima telepon dari Arman.
Sebenarnya Ratih ingin memberitahu tentang kehamilannya kepada Arman, akan tetapi urung karena peristiwa malam itu dia telah kehilangan janin dalam kandungannya.
Bahkan dia masih dalam perawatan di sebuah rumah sakit bahkan diapun tidak berani memberi khabar orang tuanya.
Malam itu dia ditemukan pingsan oleh Ibu kost dalam keadaan sangat mengenaskan.
Ratih dikejar rasa bersalah, teringat peristiwa pembunuhan malam itu dia selalu dihantui ketakutan luar biasa.
Akibat dari kejadian itu dia tidak leluasa keluar masuk perpustakaan juga masuk kuliah, Ratih tidak bisa menyembunyikan rasa ketakutan apabila bertemu orang-orang yang sering dijumpainya di sana, meskipun Arman selalu bilang, "kamu harus bersikap sewajarnya..."
Mulanya dia bisa sedikit merasa tenang apabila Arman berada di sisinya,
"Tenanglah, jangan panik... semua akan selesai dan kita tidak akan berurusan dengan pihak berwajib. Tidak ada jejak yang kita tinggalkan dan bisa diketahui oleh orang lain"
Sejak Ratih mengalami peristiwa yang sangat mengerikan malam itu bahkan hampir merenggut nyawanya, Ratih merasa yakin bahwa itu adalah arwah Via yang membalas dendam padanya. Mungkin dia akan melakukan lagi hal yang lebih parah sampai dia bisa membalaskan dendamnya.
"Aku tidak boleh tinggal diam, tapi apa yang harus aku lakukan? Ini seperti selamat dari mulut harimau masuk ke mulut naga... aku harus meminta tolong seseorang".
Dia meraih hp dan menekan nomer dalam daftar kontak, "Ahhh!! Aku menyimpannya dalam hp yang sudah hancur itu..." Ratih berpikir keras bagaimana mendapatkan nomer yang di inginkan.
Dia yakin Mei bisa membantu dan merahasiakan apa yang akan dia sampaikan.
"Saya tidak tahu kemana Ratih pergi... beberapa hari ini saya tidak melihat dia pulang". Bu Gandi terpaksa menuruti pesan Ratih untuk berbohong kepada Arman.
Arman tidak habis pikir kenapa Ratih tidak pernah mau angkat telpon sejak dua hari lalu kirim pesan, di kamarnya pun tidak ada tanda apa-apa atau sekedar pesan untuknya.
Dia mulai khawatir bukan hanya tentang keselamatan Ratih tapi lebih kepada rahasia mereka berdua,
"Jangan-jangan dia menghindariku karena ingin cari selamat sendiri atau dia akan melakukan hal lain... tapi apa? Kenapa Ratih tiba-tiba berubah begini"
pikir Arman sambil mondar-mandir di kamar Ratih, tidak lama kemudian dia keluar dan pergi menuju perpustakaan.
Ratih curi-curi keluar dari rumah sakit, dia lolos dari pengawasan suster jaga ataupun petugas rumah sakit.
Tujuannya adalah perpustakaan, tidak lama kemudian sebuah taksi datang, "Perpustakaan Universitas Dharma, Pak..." Katanya sambil masuk ke dalam taksi.
Sesampainya di depan perpustakaan, suasana sudah mulai sepi.
Dia melihat sekeliling sebelum turun membuka pintu,
"Pak tunggu sebentar ya, nanti saya kembali dan hantar saya ke rumah sakit lagi" pesannnya kepada sopir taksi.
"Ya neng, saya tunggu di sini"
Setelah membayar ongkos taksi Ratih berjalan menuju pintu samping perpustakaan.
Dirabanya kantong baju lalu mengeluarkan kunci pintu, membukanya perlahan berharap tidak ada pekerja lain yang sedang mengatur buku ke dalam rak atau sebagainya.
Tidak ada seorangpun di sana, mereka tutup lebih awal.
Ratih berjalan menuju meja counter menyalakan komputer menekan password.
Mengambil sekeping kertas menulis beberapa nomer, dia telah menetapkan pilihan untuk mencoba hubungi Mei.
Tidak sulit menemukan nomer telepon Mei karena dia terdaftar sebagai anggota perpustakaan.
Ratih membuang rasa takut, bahkan dia tidak sekalipun menoleh ruang belakang tempat kejadian keji itu berlaku.
Setengah berlari menuju pintu mendengar suara buku berjatuhan dari sana bahkan seperti mengejarnya.
Segera dia keluar dan mengunci pintu menuju mobil taksi yang masih menunggunya di pinggir jalan, tetapi kakinya terantuk batu taman.
Tubuhnya yang masih belum pulih limbung jatuh terjerembab.
Sambil mengaduh kesakitan Ratih mencoba untuk bangun dan begitu terkejut ketika sepasang kaki telah berdiri sejengkal dari kepalanya.

To be continued

Kamis, 07 Januari 2016

Kisah Misteri Paling Menakutkan - Siluman

Kisah Misteri Paling Menakutkan - Siluman
Oleh : Bunga Desember

Sudah tujuh purnama, desa Mbolomati dicekam oleh kehadian makhluk jadi-jadian yang muncul ketika bulan bulat penuh. Makhluk itu mencari tumbal berupa remaja yang usianya telah melewati tujuh belas tetapi belum mencapai dua puluh. Semua warga mengaku pernah melihat siluman itu, hanya aku yang belum pernah. Ini sangat aneh. Aku sempat meragukan cerita dari mulut ke mulut tersebut, tetapi setiap kali mereka menemukan mayat yang telah kehilangan jantung dan hatinya, aku juga ikut melihatnya sendiri, sehingga mau tak mau mempercayai keberadaan makhluk itu.
Malam ketujuh purnama, seperti purnama sebelumnya. Aku berniat membuktikan keberadaan siluman pemakan jantung yang meresahkan warga. Meskipun sebelumnya selalu gagal, namun malam ini aku harus berhasil. Aku pergi ke bukit dekat hutan, yang menurut warga adalah tempat asal siluman itu muncul. Di sana ada sebuah gubuk tua, bekas pos ronda. Namun kini tak ada yang berani berjaga jika purnama tiba.

***

Kokok ayam menelusup ke telinga, membuatku terjaga. Tak lama kemudian, langit merekkah warna emas yang menyilaukan. Gubuk ini berada di lereng bukit sebelah tiimur, menghadap ke tempat matahari terbit. Indah. Aku menggeliat sembari mengumpulkan tenaga dan ingatan.
"Hm... Gagal lagi," desahku.
Di balik bukit ini ada sungai yang masih jernih airnya dan merupakan sumber kehidupan warga desa. Aku melangkahkan kaki ke sana. Aku berjalan menuju pancuran bambu, melintasi wanita yang sedang mencuci pakaian sambil berbincang.
"Kasihan, si Ningsih. Seharusnya bulan depan mereka menikah." Bi Sumi tampak murung. Disambut gidik ngeri oleh Mbah Minah dan Yu Asih.
"Ada apa dengan Ningsih, Bi?" selaku menghentikan tangan yang akan membasuh wajah dengan air pancuran.
"Lho! memangnya kamu tidak tahu, Pan? Semalam calon suami Ningsih menjadi korban siluman itu. Dia mengambil jantung Jatmiko di depan ibunya sendiri. Mengerikan."
"Hah!" Aku terbelalak. Setelah mencuci muka, aku segera melesat mencari dua temanku. Oleh warga desa, kami dijuluki 3P. Pandu, Panjul dan Polan. Biasanya aku melibatkan mereka berdua untuk memecahkan masalah. Tapi aku justru melupakan sahabatku untuk menyelidiki keberadaan siluman pemakan jantung ini.
"Njul, Lan!" Kebetulan mereka sedang berada di pos ronda perbatasan.
"Dari mana saja kau, Pan?" Mereka berdua menatapku sangsi, lalu berpandangan.
"Panjang ceritanya. Pokoknya malam ini, aku butuh kalian berdua."
"Apa?" Mereka berdua terbelalak. Aku duduk dan mulai bercerita tentang apa yang kualami. Mereka tampak menyimak dengan seksama.
"Malam ini, adalah malam purnama terakhir. Kita harus bisa mengungkap jati diri makhluk itu. Alih-alih meringkusnya!"
"Hm... Baiklah. Kita akan berusaha."
Aku lega. Berharap petaka di desa ini segera berakhir.
Matahari terbenam sempurna. Berganti cahaya bulan yang kekuningan. Aku, Panjul dan Polan telah berada di dalam gubuk di lereng bukit. Hatiku berdebar tak menentu. Malam ini aku lebih gugup dibanding malam-malam sebelumnya seorang diri. Hatiku mengatakan, malam ini siluman itu akan terungkap dan tertangkap.
Malam semakin larut. Suara cengkerik mulai menguasai bukit.
"Makhluk itu muncul bersamaan dengan lolongan anjing hutan." Polan memberi tahu dengan setengah berbisik. Sedangkan aku sedang berupaya melawan kantuk hebat yang menyerang. Tidak! Malam ini harus berhasil, tidak boleh tertidur lagi seperti kemarin-kemarin.
"Auuu...!"
Bulu kudukku berdiri. Aku hampir tidak bisa mengendalikan diri. Tubuhku gemetar di antara rasa kantuk. Aku mendekap telinga dan meringkuk di sudut balai-balai.
"Auuuu... Auuuuuu... Auuuuu...!" Meski telah menutup telinga dengan rapat, suara anjing hutan tetap terdengar sayup di telingaku. Sedangkan rasa kantuk semakin menjadi.

***
Terdengar bising seperti suara lebah dan derap kaki ramai dan jelas. Aku terpaksa membuka mata meski berat, saat kurasakan tubuh diringkus oleh tangan-tangan kekar.
Kukuruyuk...!
Suara kokok ayam terdengar lebih lirih dari biasanya. Susah payah aku mengumpulkan tenaga dan ingatan sambil merekahkan kelopak mata yang terasa lengket.

"Tak kusangka... Pantas saja dia tak pernah terlihat bila siluman itu muncul. Dia selalu pura-pura tidak tahu siapa yang tewas!" suara wanita yang tidak terlalu keras, namun sampai juga di telingaku. Aku hafal betul itu suara Yu Asih. Disusul suara jeritan dan tangis meraung-raung.
"Polaaaaaaan...!" seorang wanita paruh baya bersimpuh di sisi mayat berlumuran darah dari dada yang terkoyak. Seluruh tubuhku ngilu melihatnya. Segera kukatupkan lagi kelopak mata ini.
"Ayo, bawa makhluk jadi-jadian ini ke alun-alun desa. Dan masukkan ke dalam kerangkeng selama kita mengurus mayat Polan!" Suara Pak Lurah memberi perintah. Bersamaan dengan itu, tubuhku diseret dua pria kekar yang belum sempat kukenali wajahnya karena kepalaku langsung ditutup dengan kain.

***

"Bunuh saja!"
"Bakar!"
"Sudah banyak korban yang berjatuhan. Jangan sampai ada lagi remaja yang tewas sebagai mangsanya!"
Aku meringkuk di dalam kerangkeng besi di tengah kerumunan warga. Mereka terus bersahutan meneriakkan hukuman yang pantas untuk siluman yang telah membunuh sanak keluarga mereka. Sedangkan aku hanya bisa mendengar tanpa tenaga, menahan sengatan sinar matahari dalam sergapan rasa lapar karena perut kosong.
"Purnama sudah berakhir. Kita biarkan saja Pandu terkurung di kerangkeng ini. Tunggu sampai purnama datang, saat tubuhnya berubah wujud, baru kita bunuh dia." Keputusan Pak Lurah membubarkan kerumunan warga. Meninggalkan tubuhku di dalam kurungan besi di bawah sengatan matahari. Semua orang pergi, namun seorang wanita datang. Aku menatapnya tak percaya.
"Yu Asih...," Tubuhku sudah sangat lemah sehingga suaraku hampir tak terdengar. Wanita yang selama ini sudah seperti kakakku itu meletakkan makanan dan minuman di luar kerangkeng.
"Makanlah dulu." Dia segera berbalik, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Melangkah pergi.
"Yu!" panggilku. Dia berhenti tanpa menoleh, "Di mana Panjul?"
"Dia masih trauma. Mengurung diri di kamar."
***
Bulan bersinar penuh. Suara lolongan anjing hutan memecah kesunyian. Sesosok makhluk hitam penuh bulu dan matanya yang bulat menyala merah, melotot ke arahku. Tangan berkuku runcing, menjulur melewati sela-sela ruji besi yang memagari tubuhku.
- TAMAT -
SOLO 080116